PETRICHOR - Satu
SATU dari sekian banyak meja kerja itu terlihat lenggang dari berbagai kegiatan. Di sudut meja sudah tersusun rapi map dan kertas dalam balutan file holder. Begitu halnya dengan pensil dan balpoint yang sudah bersarang di tabung hijau yang menjadi rumah mereka selama seminggu ini. Ya, gadis yang kini tengah duduk dengan bertopang dagu pada sikunya di atas meja memang selalu rajin mengganti tabung itu setiap minggunya.
Kening gadis itu berkerut. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang memperlihatkan pemandangan gerimis di sore hari. Seolah tak peduli dengan cahaya temaram yang kini menghiasi ruangan kerjanya gadis itu sesekali terlihat menggigit bibir. Sebersit kenangan kembali mencoba menelisik benaknya. Hingga tanpa sadar ia menarik napas dengan begitu berat.
"Enam kali sudah Valen!"
Valen tersentak. Ia mengangkat wajahnya kemudian menoleh kearah suara tadi berasal. Diani yang entah sejak kapan telah berdiri dihadapannya itu melayangkan senyum tipis. Gadis itu memang terbilang yang paling dekat dengannya. Setiap saat, penampilan Diani selalu membuatnya terpukau. Rambut hitam yang tergelung rapi. Sepasang mata Diani yang bulat semakin menawan dengan riasan di wajahnya. Membuat siapapun akan betah berlama-lama memandanya.
"Maksudmu apa, Diani?" tanya Valen sambil memperdalam kerutan di keningnya. Bingung.
"Dalam satu menit ini aku sudah melihatmu menghela nafas berat sebanyak enam kali," jawab Diani dengan tatapan menyelidik. "Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah ini masih tentang Lelaki-petrichor-mu itu?"
Valen menghela nafasnya lagi, membalas tatapan Diani dengan senyum tipis. "Ini 'nggak seperti yang ada dipikiranmu, Diani." Ia menunduk lemas lalu menempelkan pipi kirinya pada meja kerjanya. Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas berat.
Diani memang satu-satunya orang yang pernah mendengar cerita tentang cinta pertama Valen yang menurutnya begitu tragis. Dan setiap kali ia memergoki Valen menghela nafas berat seperti itu, bisa dipastikan gadis itu sedang terlarut dalam momen masa lalunya.
"Bohong lagi." ucap Diani sembari memicingkan mata. "Kamu pikir sudah berapa lama kita saling kenal, Valen. Kamu terlihat begitu murung padahal ini hari jum'at yang ditunggu semua orang. Apalagi yang bisa membuatmu begitu jika bukan karena mengingat kisahmu dengan lelaki petrichor-mu itu. Omong-omong siapa namanya?" Ia baru menyadari selama Valen cerita tentang masa lalunya itu, gadis itu tak pernah sekalipun menyebutkan nama lelaki itu didepannya.
Valen terkekeh perlahan. "Itu ra-ha-sia," jawab Valen dengan penuh canda membuat Diani menggeretakkan gigi.
Pandangan Valen kini beralih pada bulir-bulir hujan yang terlihat mulai membahasi jendela disampingnya. Ia menutup mata perlahan. Sesak.
"Sejak kapan ada rahasia diantara kita?" Protes Diani yang sama sekali tak digubris oleh Valen.
Sebenarnya bagi Valen sama sekali tak masalah jika Diani tahu siapa nama lelaki itu. Hanya saja, ia berusaha untuk tak lagi menyebut nama lelaki itu dengan bibirnya. Tidak untuk sekarang. Saat jendela itu melukiskan siluet punggung lelaki yang terus menjauh walau Valen terus meneriakkan namanya. Lelaki yang ternyata begitu berharga dan amat ia cintai. Tetapi kebodohannya membuat lelaki itu pergi dan mungkin tak akan pernah kembali.
"Kamu itu hebat, Valen!" Kini giliran Diani yang menarik napas pelan. "Kamu masih bisa meluangkan pikiranmu untuk lelaki yang sama walaupun waktu sudah lima tahun!"
"Aku 'nggak memikirkan dia!" sanggah Valen.
Diani mencibir "Kamu 'nggak bisa bohong saat mata kamu saja terus menerawang ke arah jendela yang memperlihatkan suasana saat pertama kali kalian bertemu, Valen"
Valen menundukkan kepalanya, mengalihkan pandangan pada sudut-sudut meja kerjanya yang sebenarnya tak memperlihatkan hal apapun yang menarik.
"Saat itu adalah pertama kalinya ada lelaki yang mengejarku dengan cara seperti dia. Aku terlalu panik hingga mengatakan hal yang membuatnya menjauh begitu saja." cerita Valen lemas.
"Menurutku kamu sama sekali 'nggak salah!" Diani menarik dagu gadis itu agar menatap matanya. "Lagi pula selama ini... ah, apa kamu pernah mencoba menghubunginya? Memulai semua dari awal dan menyatakan perasaanmu?"
Valen menggeleng perlahan. "Sejak saat itu hubungan kami renggang... lagi pula aku terlalu takut jika kenyataannya sekarang ia mungkin tak mengenaliku sama sekali"
Diani berdecak kesal, tangannya sudah siap menggapai pensil di sampingnya yang akan ia gunakan untuk melempar wajah polos Valen yang membuatnya semakin kesal. Namun, ia urungkan. Diani masih punya stok batas sabar untuk menghadapi teman kerja dihadapannya.
"Tapi 'nggak ada salahnya buat mencoba, kan!" ucap Diani mencoba menguatkan.
"Entahlah, aku masih belum berani!"
Sungguh dalam hati terdalam Valen sangat ingin bertemu dengan lelaki itu lagi. Tapi selalu saja timbul ke khawatiran dalam benaknya. Ia seolah bisa membayangkan suasana canggung yang akan mendominasi pertemuan mereka. Atau kemungkinan terburuknya lelaki itu bahkan sudah lupa jika mereka pernah saling kenal. Jika itu sampai terjadi, apa yang harus dilakukannya?
"Kenapa kamu membuat ini begitu rumit, sih?" omel Diani dengan nada frustasi. Ia meraih tas dari atas meja dan bangkit dari duduknya. "Ayo kita pulang sekarang. Kamu 'nggak ada niat untuk menginap, 'kan?" ajak Diani akhirnya.
***
Bersambung ke PETRICHOR - Dua
Komentar
Posting Komentar